Rabu, 02 Juli 2014

CEPEN : Berikan Pijar Mentari



Berikan Pijar Mentari
( Oleh : Desy Destyani )

"Bang, bangun! Katanya lo mau ngajar teater di SMA Serba Bhakti?" Adi membangunkan Pijar yang sedang asik tidur siang.
"Lima menit lagi" jawab Pijar.
"Bang, lo masuk jam 13.00, sekarang lo tahu jam berapa? Jam 12.00 belum lagi lo harus mandi, shalat duhur, makan siang dan perjalanan dari kosan buluk kita ini ke SMA Serba Bhakti itu 20 menit, lo bisa hitung sendiri dah bang, belum lagi..." belum sempat Adi melanjutkan kata-katany Pijar bangun dan membentak Adi,
"Diem!" Adi bengong dan setelah Pijar berlalu ia komat-kamit sendiri.

***
Yah, Pijar. Guru muda (bisa jadi) yang masih belum lulus kuliah di Universitas Islam Latifah Mubarokiyah, sebenarnya spesifikasinya menjadi guru Sekolah Dasar, tapi karena kekreatifannya, dan keaktifannya ia bisa mengajar di SMA, meskipun hanya mengajar ekstrakulikuler teater, Pijar menggeluti dunia teater semenjak ia berada di bangku MTs (Madrasah Tsanawiyah/setingkat SMP) hingga kini ia pun mempunyai group teater yang merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa dikampus teercintanya ini. Yah, itulah Pijar yang tak pernah bisa berhenti berpijar.
Mengajar di SMA baginya mempunyai tantangan tersendiri, meskipun ia tidak terlalu ganteng, dan tidak begitu ahli dalam melirik cewek-cewek labil sekelas anak SMA, tetap saja ia menjadi bahan perbincangan anak-anak SMA terutama murid-muridnya. Semenjak ia mengajar ekstrakulikuler teater di SMA tersebut anggora teaternya membludak. Dan mayoritas cewek-cewek yang malu-malu saat di suruh akting. Bahkan sampai-sampai siswi terpandai dengan kacamata tebalnya pun ikut serta dalam ekstrakuliler tersebut, meski saat latihan ia hanya bertanya-tanya tentang ini itu, definisi ini itu yang membuat Pijar sedikit jengkel, karena bagi Pijar saat bermain teater bukan definisi dialog, atau pun monolog dan istilah-istilah dalam seni teater lainnya yang harus di pelajari tapi bagaimana kita mempraktekan dialog yang benar, menarik dan bisa dinikmati penonton. Tapi kekritisan anak itu membuat Pijar memberikan two thumb, terlebih saat melihat anak itu Pijar seakan melihat Mentari hadir dihadapannya, entah mengapa. Mentari, yah. Mentari.
***
"Bro, murid gue. Yang gue lupa namanya mengingatkan gue sama mentari bro!" Pijar saat bersama Arif dikosannya.
"Ah, itumah lo nya aja bang yang emang lagi kangen sama si mentari, lo kenapa lagi sih sama dia?" tanya Arif.
"Gak kenapa-napa sih, gue cuman gak bisa ngerti aja dengan jalan pikirannya, apa gue itu benar-benar memilikinya? Itu pertanyaan yang mulai timbul di benak gue kini" jawab Pijar.
"Lo terlalu egois bro!"
"Bukannya dia yah yang mikirin kerjaannya mulu? Menurut lo siapa yang egois?" jawab Pijar. Adi tiba-tiba muncul dengan sepiring ubi rebus.
"Ah, kalau lo pada setuju sama cewek yang selalu bilang cowok itu egois, gue juga ikutan setuju asal cewek itu rela gue bilang munafik. Contohnya si Mentari, dia so enggak butuh si Pijar padahal..." Adi tidak melanjutkan kata-katanya, ia malah asik mengunyah ubi rebusnya.
"Padahal apa?" tanya Arif.
"Gue enggak tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan si Mentari." jawabnya polos.
"Huuh, udah gue enggak mau ngebahas itu!" Pijar masuk ke kamar mandi.
"Bang, cewek-cewek SMA ada yang kinclong-kinclong enggak?" Adi mulai kumat.
"Yah, lo ikut aja bro besok okay, sambil bantuin gue." jawab Pijar.
***
"Selamat pagi dunia" seperti biasa setiap subuh Adi berkoar sambil membuka satu per satu jendela kamar kos mereka. Kadang hal ini membuat Pijar, Bayu, dan Arif jengkel, karena udara Tasikmalaya tidak seperti udara Jakarta yang panas, subuh itu masih terasa dingin di daerah ini. Bahkan tak jarang kabut masih menyelimuti pandangan.
"Eh, semangat amat lo!" Bayu yang baru selesai shalat subuh menegur Adi.
"Harus dong, hari ini mata kuliah pertama kita itu Pembelajaran Bahasa Inggris, sudah siap everybody?" jawabannya sedikit ngelantur.
"Pak.Ridwan nya sakit perut, enggak bakalan hadir jam 07.00 calm aja!" Ujar Arif, yang walau pun becanda wajahnya lempeng-lempeng aja.
"Bro, lo pulang kuliah langsung caw ke SMA?" tanya bayu yang melihat Pijar baru akan melaksanakan shalat. Pijar hanya mengangguk.
"Iya dong!" jawab Adi. "Kok jadi lo yang semangat?" tanya Bayu. Adi hanya nyengir menampakan gigi kelincinya. Arif seperti biasa hanya geleng-geleng kepala.
***
Sesampainya di kampus Pijar melihat Mentari sedang kerepotan, inpokus, laptop dan beberapa buku ditangannya. Sesekali ia terhuyun karena high hell nya.
"Mentari." ucapnya lirih. Lalu Pijar kembali pokus pada tujuannya masuk kelas, dan tetap mengacuhkan Mentari kendati di hatinya bergejolak seribu rasa untuk Mentari. Yah, begitulah laki-laki yang sangat pandai menyembunyikan perasaan dan hatinya. Saat jam kuliah selesai dia langsung berangkak ke SMA Serba Bhakti, bersama Adi tentunya. Saat latihan di mulai dan materi pertemuan kali ini adalah pembagian peran, Pijar sedikit kebingungan karena jumlah karakter dalam naskah dan jumlah siswa yang ada tidak sesuai.
"Adik-adik sepertinya tidak semua anggota dapat peran." ujarnya.
"Yaaaahhh..." suara riuh terdengar.
"Aku enggak apa-apa kok enggak dapet peran." ujar gadis berkacamata itu.
"Nah, loh kenapa?" Adi yang sedang mengemut permen lolinya bersuara.
"Soalnya Pak, aku dilarang mama katanya, aku harus pokus belajari jangan banyak main, kalau aku dapat peran berarti aku bermain perandong, dan bla, bla, bla, bla..." ocehan anak itu panjang lebar dengan speed yang luar biasa cepet. Adi hanya menelan ludah melihatnya.
"Sudah-sudah!" Pijar menghentikan kata-kata anak itu. Pembagian peran pun selesai banyak cewek-cewek yang kecewa, dan yang lebih parah ada siswi nekat yang ngajuin syarat.
"Pak, aku sih enggap apa-apa enggak dapet peran asal bapak mau jalan sama aku satnight nanti." Pijar menelan ludah.
"Sama aku aja" Timpa Adi.
"Yah, boleh sama kak Adi saja" jawab Pijar.
"Aku maunya sama Bapak." anak itu manja.
"Saya banyak kerjaan dek." jawab Pijar.
Dan saat Pijar mengusulkan latihan setiap hari karena akan ada perlombaan, semua siswa girang dan nyaris tidak bisa di bendung. Namun saat Pijar mengumumkan latihannya secara mandiri dan hanya mendapat bimbingan dari dia sebanyak dua minggu sekali saja, semua anak-anak mengeluarkan nada kecewa. Yah, itulah kehidupan ABG labil. Begitu dalam benak Pijar. Yang setiap kali ia mengajar selalu kerepotan Saat perjalanan pulang Adi mengajukan beberapa pertanyaan.
"Bang kenapa enggak latihan tiap hari aja bareng kita bang?"
"Ah, lo pikir gue enggak butuh makan, trus bensin dan perment lo gue bayar pake apa?"
"Maksud lo?" tanya Adi kembali.
"Yah, gue di bayar sekolah cuman untuk ngajar 4 jam per minggu. Itu artinya gue di bayar 2 kali pertemuan saja per minggunya. Tekor banyak dong gue kalau ngajar tiap hari. Sekolah sih enggap apa-apa malahan seneng anak didik mereka berkembang dan banyak kegiatan positif nah gue?
"Iya, sih. Bang, cewek tadi yang lo kata mirip si Mentari?" Pijar hanya mengangguk.
"Mirip dari mananya?" Pijar tidak bisa menjawab
"Bang, kenapa lo tolak tadi, lumayan kan si Mentari enggak bakalan tahu ini. Walau pun tahu kalian kan lagi break, lagi diem-diem-an, so enggak mungkin dia protes, yah kalau protes juga lo yang bakalan menang."
"Bisa enggak gue lagi enggak mau bahas hal ini"
"Okay, bro santai." Sesampainya di kosan, tanpa sepatah kata pun Pijar langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhnya dilantai, melihat hal itu Arif yang sedang asik dengan bukunya di atas tempat tidur menyondongkan tubuhnya kearah Pijar lalu kembali berbaring.
"Sudah pulang bro?"
"Heump." jawab Pijar.
"Kenapa lo?" tanya Arif. Pijar tak menjawab.
"Gue tadi ketemu si Mentari, dia kurusan yah?" Pijar tetap terdiam "Gue di kasih buku ini." Arif menunjukan buku ditanganya. Dan kembali meluruskan tubuhnya diatas tempat tidur. Pijar bangun dan merebut buku di tangan Arif, namun Arif menghindar, dan mempererat genggamannya.
"Ini buku buat gue bro!" ujar Arif.
"Gue tahu, gue cuman mau lihat." jawab Pijar.
"Katanya lo sudah enggak peduli sama si Mentari?" Pijat hanya terdiam dan terus berusaha merebut buku itu dari tangan Arif. Hingga Arif menyerahkannya. "Judulnya, Hidup. Isinya pandangan-pandangan dan harapan-harapan si Mentari dalam hidupnya. Ini buku ke tiganya. Seharusnya lo yang baca, karena di dalamnya ada harapan tentang lo juga." Arif menjelaskan isi buku itu.
"Bohong banget." jawab Pijar.
"Sebelah mana bohongnya?" tanya Arif.
"Dia enggak pernah tuh ngertiin gue." jawab Pijar.
"Semua salah paham, cara komunikasi kalian yang salah. Lo terlalu dingin dan kaku bro, dan dia terlalu menutup diri. Dia berpikir lo yang enggak pernah mengerti dia, dan lo pahami setiap kata dalam buku ini penuh kekecewaan atas lo, namun di sisi lain kekaguman itu muncul dalam setiap baitnya, Datuk di hatinya dalam cerita ini adalah lo." Arif mulai kesal dengan tingkah dan pemikiran sahabatnya. Lo baca dan pahami buku itu baru lo ngerti!”
"Lo suka sama Mentari Rif?" tanya Pijar.
"Gila." ucap Arif lirih, dan ia menjawab pertanyaan Pijar "Yah, gue cinta sama Mentari” teriak Arif sambil menendang pintu dan menuju ruang tamu, Adi dan Bayu yang sedang rebutan remote Televisi kaget dibuatnya dan seketika membawa keheningan.
Matahari pun kembali ke peraduan namun Mentari tetap bersinar dalam hari Pijar dan bahkan terus berpijar. Pijar keluar dari kamar dan membantingkan Hand Phone nya.
"Wis, bang sayang." Adi memungutnya.
"Kenapa bro?" Tanya Bayu. Pijar hanya menggeleng. Sementara Arif tetap dia seribu bahasa.
"Ow,ow,ow. Lo di gangguin cewek-cewek labil ini yah bang, SMS dan telephon mesra yah? Hihih lumayan bro mengisi kekosongan." Ujar Adi, Pijar terlihat mengambil air wudlu, sementara Bayu dan Arif terdengar membaca surat Yassin, dan Adi sibuk dengan Hand phone pijar yang terus-terusan bergetar.
"Lo jangan sekali-kali balas SMS itu!" bentak Pijar. Adi menggeleng.
"Shalat aja yang khusus bang!" jawab Adi. Terdengar seseorang mengetuk pintu kontrakan mereka dan Adi dengan sigap membukanya, Emak dengan sebakul nasi dan sepiring lauk serta sayur. Adi menerimanya dan menawarkan emak wanita separuh baya ibu dari pemilik kontrakan itu untuk makan malam bersama. Namun, emak menolaknya. Arif sudah menganggap emak seperti ibunya sendiri. Bahkan tak jarang Arif curhat dan mengeluh kepada emak.
Saat makan malam suasana hening terasa Bayu terheran-heran melihat tingkah Arif dan Pijar.
"Bro lo beneran suka sama si Mentari?" tanya Bayu kepada Arif, memecah keheningan. Arif terdiam.
"Gue juga suka." ujar Adi. Pijar tersedak dan segera mengambil air minum.
"Kenapa lo bro? Cemburu?" tanya Bayu. "Gue heran sama lo bro, bukan si Mentari yang munafik, dan bukan dia juga yang egois tapi lo!" tuduh Bayu. "Lo nyiksa diri, pikiran, dan hati lo sendiri bro!" lanjutnya. Pijar terdiam. Arif berhenti makan dan masuk ke kamar mandi.
"Jangan-jangan dia nangis bro!" Adi mulai ngerecokin. Pijar masuk cuci tangan di mangkuk dan masuk kamar. Yah, mentari selalu berpijar, itu yang seharusnya terjadi. Dalam benak Pijar, ia merindukan mentari, ia menginginkan mentari selalu di sisinya, namun ia tidak tahan dengan kesibukan mentari. Yah, ia akui bahwa ia terlalu egois dan ia terlalu munafik untuk mengakui semua itu. Mentari dan mentari.
***
Mentari pagi ini terasa hangat, namun tak sehangat hati Pijar.
"Ada-ada aja yah bro kampus kita" ujar Adi kepada Pijar. "Minggu kok kuliah?" lanjutnya kembali. Namun Pijar tak bergeming. Semangat seakan tak pernah tampak dalam dirinya, Pijar yang selalu aktif berpijar kini terlihat redup.
"Mentari" ucapnya lirih saat ia melihat mentari bersama Arif sedang berjalan ke arah peepustakaan.
"Bro, itu Arif ? Lo kalah star bro!" ocehan Adi seakan menjadi nada sumbang di telinga Pijar. Akhirnya Pijar mengambil HP nya dan menelphon mentari.
"Assalamu'alaikum" suara lembut di ujung sana.
"Waalaikum salam. Kamu dimana? Dengan siapa? Lagi sibuk apa?" pertanyaan Pijar bertubi-tubi.
"Tumben kamu nanya-nanya kayak gituh?" tanya Mentari di ujung sana.
"Kita bisa bertemu enggak?" jawab Pijar.
"Kapan?"
"Kalau bisa sih hari ini? Kamu ada acara?"
"Kalau hari ini kamu bisa ke sini? Aku di perpus, ada Arif juga kok disini, soalnya aku hari ini jam 10.00 mau berangkat ke Surabaya ada Seminar, tiga hari sampai hari rabu, mungkin kamis baru bisa kembali." jawab mentari, sementara waktu suda menunjukan pukul 09.45 dan mentari sudah terlihat siap-siap berangkat. Saat Pijar menghampirinya mobil jemputan dari panitia sudah datang dan Mentari harus pergi, Mentari hanya sempat menjabat tangan Pijar dan berpamitan sementara Arif tetsenyum ke arahnya dengan penuh kekaguman. Sedangkan Pijar hanya mendapati kekecewaan menatap mentarinya berlalu pergi. Pijar tahu menunggu Mentari kembali adalah jalan satu-satunya untuk mengungkapkan asanya, dan menunggu itu adalah hal yang paling melelahkan kendati hanya tiga hari. Arif meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
***
Keheningan menyelimuti rumah kontrakan ke empat pemuda itu, yang terdengar hanya suara syair Illahi yang mengalun indah saat di bacakan Arif, dan kesibukan Adi yang chating terus menerus bersama anak-anak SMA murid-murid Pijar. Dan Pijar sendiri? Semenjak pulang dari kampus ia tidak keluar kamar. Malam itu berlalu tanpa terdengar percakapan diantara keempat pemuda itu. Kesekokan harinya pun begitu, dan hingga mentari terbenam Pijar tak keluar kamar juga, Bayu sedikit heran, namun ia harus pulang ke kampung halamannya karena telephone ibunya kemarin mungkin sesuatu terjadi dengan keluarganya. Dua hari berlalu Pijar masih tidak keluar kamar juga, kali ini Adi bertindak.
"Bang, lo kenapa bang? Jawab gue bang!" Lalu Adi mendobrak pintu kamarnya. Di dapainya Pijar yang sedang mengigil dan pucat, Adi dan Arif langsung membawanya ke puskesmas terdekat, ia dinyatakan terlalu banyak pikiran, dan alerginya kambuh. Satu hari Pijar dirawat dan Adi dengan setia menunggu dan merawat Pijar sementara Arif, menggantikan Pijar untuk membimbing anak SMA Serba Bhakti untuk latihan, dan tanpa sepengetahuan siapa pun Arif menemui mentari yang baru kembali.
"Assalamu'alaikum" sapa Arif saat mentari hendak keluar dari rumahnya.
"Waalaikum salam" Mentari mempersilahkan Arif masuk, dan menceritakan semua yang terjadi kepada mentari, awalnya mentari ragu namun Arif berhasil meyakinkan bahwa Pijar sangat merindukannya, bahkan dalam setiap sujudnya nama Mentari yang selalu di sebut, dalam setiap doanya hanya mentari yang ia inginkan. Mentari akhirnya bersedia menemui Pijar, karena dia pun sama bahkan ia sangat merindukan Pijar. Saat Arif memasuki kamar tempat Pijar di rawat, Arif membawakan Pijar bunga mawar putih.
"Apaan nih bro? Gue totally normal." ujar Pijar.
"Gue juga kali, ini bunga buat lo. Itu artinya lo boleh ngasih nih bunga ke siapapun yang lo mau, dan gue nemuin ini di bukunya Mentari" Arif memberikan Pijar secarik kertas bertuliskan puisi indah.
Teruntuk Engkau yang selelu berpijar
Aku disini selalu menuntut pengertianmu
Sementara aku lupa kau pun butuh dimengerti
Wahai kekasih dambaanku, sungguh aku malu
Yah, malu atas semua itu
Maaf kan aku yang tak bisa menjadi mentari yang selalu berpijar untukmu selama ini
 Maafkan aku yang tak layak kau sebut mentarimu
Aku hanya bisa menerangi yang lain sementara hati redup
Yah, redup seredup-redupnya tanpa pijarmu.
~Mentari tanpa Pijar

Tak beberapa lama, seseorang mengetuk pintu ruang perawatan, dan sesungging senyuman manis terpancar dari wajah lembut Mentari. Yah, mentari.
"Pijar mentari memang untukmu." ujar Arif.
Adi dan Arif meninggalkan Pijar dan Mentari berdua di kamar perawatan itu, tampak diantara mereka saling meluruskan kesalah pahaman selama ini, dan mudah-mudahan mereka dapat saling mengerti apa di dalam hati. Hingga mentari memang akan terus bersama Pijar, dann terus ber Pijar.


Minggu, 13 November 2011

Time is Choice

Memaknai waktu? kehidupan? future? apa sebenarnya itu?
Memang hidup kita adalah takdir Tuhan tapi jika kita tidak merubahnya Hidup kita takan berubah. :)